The Day I Met Davin


Nama anak laki-laki ganteng ini Davin. Umurnya masih kecil. Baru empat tahun mau masuk tahun kelima. Well mungkin waktu lu lihat foto dia ini, lu ga bakalan kepikiran penyakit apa yang sekarang dia sedang derita.

Kanker getah bening. Iya, emang kanker. Begitu mendengar kata kanker aja sebenarnya hati gue uda sakit banget. Anak sekecil ini, dia baru empat setengah tahun! Well sebenarnya kanker getah bening itu masih satu dugaan. Sekarang ini Davin lagi diperiksa dan lagi menunggu hasil cek-up dokter, apakah itu emang positif kanker apa bukan.

Minggu, 13 Maret 2011 adalah hari dimana gue bertemu Davin. Sebelumnya gue cuma pernah denger cerita dari Albert yang sekarang kerja di rumah sakit, tentang anak kecil yang menderita kanker. Dia dipindahkan dari Fu Da Hospital, yang adalah rumah sakit swasta, ke Guang Zhou Di Er Ren Min Yi Yuan, yang adalah rumah sakit pemerintah. Yang gue denger dari Albert sih katanya dokter di rumah sakit yang sekarang ini lebih bisa menangani dia, selain itu di rumah sakit yang kemarin itu ga ada bagian spesialis untuk anak-anak.

Gue sama Felly ke rumah sakit itu kemarin buat jemput Davin dan papanya, Om Richard, buat pergi ibadah ke gereja, karena kebetulan Om Richard ga tau jalan, dan ga bisa bahasa mandarin. Sebelumnya, kita uda diperingati sama Albert, katanya Davin kalau sama orang baru suka jutek. Tapi ternyata waktu gue dan Felly ke sana, dia langsung bisa ketawa, main bareng sama kita.

Beneran, gue bener-bener ga terima, kenapa anak sekecil itu harus dapet penyakit kayak gini.

Davin anaknya pinter. Dia ngerti orang-orang sekitarnya ngomongin apaan, dia bisa nyanyi. Tapi tetep aja, dia masih anak kecil yang pengen main, bukan seharian di rumah sakit, duduk dan terbaring seharian. Harusnya dia main sama temen-temen seusianya, nonton kartun kesukaanya, atau bersikap bandel seperti anak-anak pada umumnya. Dia ga seharusnya berhadapan dengan jarum suntik dan infus, atau tiap hari bertemu dokter dan suster, atau bahkan berada di negara asing yang dia bahkan ga tau lagi dimana.

Waktu gue dan Felly sampai ke rumah sakit, dia lagi diinfus ternyata. Akhirnya kita nungguin sampai infusnya selesai, lalu berangkat. Sebelum berangkat, suster mau nyabut dulu infusnya. Gue ngelihat sendiri waktu infusnya mau dilepas. Badannya ditempeli sesuatu yang gue ga tau itu apa. Dia nangis waktu itu. Dia teriak-teriak, "Papa Papa!". Jujur, gue sakit hati banget ngelihat dia kayak begitu.

Selama beberapa jam bersama Davin, gue melihat dia yang kalem, kadang juga lihat dia ketawa waktu gue ngasih teka-teki garing dengan boneka kodoknya. Di saat dia ketawa, gue juga ikutan senang, tapi ada satu sisi dalam hati gue yang rasanya tetep aja sakit.

Satu hal lagi yang bener-bener menyayat hati gue (oke gue tahu bahasa gue rada lebay, tapi emang itu yang gue rasakan), yaitu di saat gue ngelihat papanya Davin, Om Richard. Dia bener-bener satu sosok papa yang hebat banget. Dia tegar, dia kuat. Yang gue denger, dia bilang ke pembina gereja gue, "Ini bukan ujian dari Tuhan, tapi ini adalah satu cara Tuhan buat menguatkan iman kita." Menurut lu, berapa orang sih di dunia ini yang bisa ngomong kayak gitu dalam situasi begini?

Yang membuat gue sangat sedih adalah saat gue membayangkan perasaan Om Richard. Gue yakin banget di saat dia ngelihat Davin kayak begitu, pasti dia dalam hatinya berpikir agar dia aja yang menggantikan Davin, dia aja yang sakit, dia aja yang diinfus, dia aja yang disuntik, jangan anaknya. Dan gue tau, inilah perasaan semua orang tua ketika melihat anaknya sakit. Kita semua sebagai anak harus sadar akan hal ini, tentang besarnya kasih orang tua kita kepada kita.

Just so you know, Om Richard punya 4 anak, laki-laki semuanya. Yang paling gede umurnya baru 19 tahun ini. Davin itu anak ketiga. Setelah Davin masih ada satu adiknya lagi, yang usianya baru EMPAT BULAN. Dari cerita yang gue denger, Om Richard udah sekitar tiga bulan meninggalkan rumahnya yang di Maluku demi bawa Davin berobat, WHICH MEANS waktu dia meninggalkan rumah, usia adiknya Davin baru satu bulan. Ironis.

Di balik ketegaran Om Richard, dia tetep aja masih manusia biasa. Sewaktu ibadah, gue ngelihat sendiri gimana dia nangis waktu lagi pujian penyembahan. Gue yakin setiap kata dari lagu yang dia nyanyikan pasti terasa banget sama dia. Ga gampang pasti untuk menyanyikan "Tuhan Yesus baik" di saat seperti ini. Tapi Om Richard selalu percaya akan hal itu.

Kita mungkin ga bisa membantu apa-apa buat Davin dan Om Richard. Tapi satu hal yang gue yakin kita semua bisa lakukan buat mereka : DOA. Gue yakin di saat kita berdoa, Tuhan pasti bakal dengar kok. Dan setelah Dia mendengar doa-doa kita, dia yang bakal menjawabnya dengan cara-Nya sendiri.

Mungkin lu ga kenal Davin, sebaliknya Davin juga ga mengenal lu. Tapi gue bener-bener berharap, lu bisa bantu Davin, dengan cara lu sendiri. Sekarang ini gue sangat berharap untuk melihat mujizat. Gue berharap ini bukan kanker. Gue ga tau lah ini apaan, tapi gue sangat sangat sangat berharap ini bukan kanker.

Kalau lu uda meluangkan waktu lu buat baca ini, gue minta lu bisa meluangkan waktu sedikit lagi, buat masukin Davin ke dalam doa-doa lu. Cukup sebut namanya aja, gue yakin Tuhan udah tau apa yang ada dalam isi hati lu. If you care, please do, guys.

There can be miracles when you believe
Though hope is frail, it's hard to kill
Who knows what miracles you can achieve
When you believe, somehow you will
You will, when you believe

When You Believe - Mariah Carey

3 comments:

nelly said...

this is a very good story sas....aq sampe nangis bacanya. Salam tuk davin ya en papanya. GBu all

Anonymous said...

Keep on living Davin
stay strong, God is everywhere

katzyouko101190 said...

keep living, davin...
one day you'll reach the top and become the best...
GOD always be with you...
JClu...

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...