Dream Card: How I Got Scammed


It took all my pride to finally decide posting this at the blog, karena menurut gue dengan menceritakan ini sama aja dengan mengumbar kebodohan gue kepada seluruh dunia. But at last I thought that I loved you guys even more than I love my pride (which actually means I love you so much LOL) so I hope this can help you guys and prevent you from experiencing the same thing I just did.

Kejadiannya bermula di saat gue mengajukan aplikasi kartu kredit ke salah satu bank swasta, which in this case adalah bank "M" dimana dia bekerja sama dengan salah satu hypermarket lokal dengan menawarkan extra discount sebesar 10% untuk pembelanjaan kita. Sebagai anak kost-kostan yang harus belanja bulanan, menurut gue ini adalah satu deal yang cukup baik, ditambah lagi dia punya discount yang cukup gede juga di salah satu outlet eskrim favorit gue, yang semakin menguatkan keinginan gue untuk punya kartu kredit ini #PentingBangetYaSas.

Singkat cerita, setelah melewati semua proses yang diharuskan, aplikasi kartu gue diterima dan gue dikabarin kalau kartu gue akan dikirim ke kantor, which I was pretty excited about karena emang pas di masa itu gue lagi emang harus beli beberapa keperluan. Berikut kronologis kejadian yang menimpa gue tersebut.

Selasa, 18 Agustus 2015
Kartu kredit gue diantar ke kantor sekitar pukul 9 pagi. Siangnya pada hari yang sama gue mendapatkan telepon dari pihak yang mengaku dari Bank "M" yang mengaku bernama Dini menanyakan apakah kartunya sudah gue terima, gue pun menjawab sudah. Setelah itu dia nanya apa gue udah mengaktifkan kartunya dan gue jawab belum karena gue emang berpikir untuk bawa pulang untuk baca-baca terms and conditions-nya, lalu dia bilang dia bakal nelpon lagi besok untuk konfirmasi.

Rabu, 19 Agustus 2015
Pagi hari waktu gue di kantor akhirnya gue mengaktifkan kartu kredit gue tersebut dan langsung registrasi PIN, lalu sekitar jam 11 siang gue mendapat telepon lagi dari Dini, menanyakan apa kartu dan PIN sudah gue aktifkan dan gue pun menjawab sudah. Setelah itu dia memberi info ke gue bahwa gue bakal dapet hadiah tambahan berupa sebuah handphone, power bank dan voucher hotel. Dia sempet bilang ke gue untuk tidak berekspektasi tinggi karena it was just a souvenir, the handphone wouldn't be super fancy dan gue pun mengiyakan saja (dalam hati ya tentu aja seneng juga dapet HP gratis ya lumayan banget kan ya). 

Setelah itu dia info ke gue kalo manager-nya yang bernama Cindy akan menelepon gue untuk konfirmasi mengenai pengantaran hadiah gue itu. Benar aja ga lama setelah itu, sekitar pukul 13.48 gue ditelepon oleh Cindy dan dia mengatakan hadiah itu akan diantar ke kantor. Sempat terjadi beberapa kali perbincangan telepon dari dia karena dia bilang kurirnya agak kesusahan mencari alamat kantor gue. Sebenarnya gue udah agak bingung soalnya gue pikir waktu pengantaran kartu kredit sepertinya ga ada masalah apa-apa soal alamat tapi ini kenapa kayanya susah banget. Dia pun ngabarin ke gue kalau kurir yang akan mengantar bernama Sofian.

Ga lama setelah itu Sofian pun sampai ke kantor gue dan gue bertemu dengan dia. Jujur gue ga gitu ada kecurigaan, gue bahkan masih berusaha ramah dengan ngajakin dia becanda dan dia juga kelihatan seperti orang yang baik. Gue masih sempat kasihan ke dia karena harus nentengin tas gede yang berisi banyak hand phone dan power bank yang cukup berat. Di saat dia memberikan gue voucher hotel dan kartu yang bernama Dream Card itu, akhirnya dia ngeluarin EDC dan dia bilang kalau untuk bisa memakai voucher diskon hotel itu, limit di kartu kita harus di-"freeze" sebanyak Rp 2,850,000 agar di kemudian hari di saat kita memakai diskon tersebut, kita sudah tidak perlu membayar lagi ke pihak hotelnya, karena kita sudah pernah membayar uang tersebut.

Sofian menjelaskan kalau nilai yang kita bayarkan itu bisa dicicil sebanyak 24 atau 48 kali tergantung keinginan kita, dan di saat kita ternyata dalam 12 bulan tidak memakai voucher yang sudah kita cicil tersebut, maka uang yang telah kita bayarkan akan di-debit lagi ke kartu kredit kita. Singkat cerita, gue pun melakukan transaksi tersebut dan akhirnya kartu kredit gue berhasil digesek oleh si Sofian itu. 

Benar-benar tepat setelah Sofian pamit dan meninggalkan kantor gue, gue seakan baru 'tersadar' kok sepertinya ada yang janggal. Gue pun buru-buru kembali ke meja kerja gue dan langsung gue Googling tentang dream card yang telah gue "beli" itu. Gue setengah ga percaya dimana waktu gue menemukan informasi di internet kalau itu adalah bentuk penipuan. Tindakan gue selanjutnya adalah gue buru-buru menelepon pihak Bank "M" untuk konfirmasi dan dari mereka mengatakan kalau dari pihak bank tidak pernah mempunyai program seperti itu. Setengah panik gue bertanya apa mungkin transaksi gue bisa di-cancel karena gue merasa sudah kena tipu, dan yang dikatakan pihak bank cuma mereka tidak bisa membantu karena yang punya akses untuk membatalkan transaksi hanyalah dari pemilik mesin EDC tersebut.

Kalau kalian bertanya apakah gue ga berusaha untuk memperjuangkan uang gue yang sudah terlanjur "terbang" entah kemana itu, jawabannya adalah I did. Beberapa hari setelah kejadian itu gue terus berusaha menghubungi bank untuk meminta bantuan (dan selalu tidak mendapatkan hasil karena pihak bank merasa transaksi itu dilakukan secara sadar jadi mereka menolak untuk membantu membuat klaim sanggahan), gue juga berusaha menelepon terus pihak penipu (dengan bantuan teman-teman gue juga), kasarnya kaya "stupidly" berharap dia bisa berbelaskasihan dan at least mau balikin duit gue setengah-nya atau gimana lah. Tapi ya tentu aja akhirnya sia-sia.

Sebenarnya modus penipuan seperti ini sudah banyak banget yang kena dan menurut hasil research gue, praktik penipuan ini udah berlangsung dari 2011 dan sampai sekarang tetep aja banyak banget yang kena. Asumsi utama gue adalah mungkin ini adalah akibat dari jual-beli data customer dari pihak bank ke oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab dan juga mereka ya memanfaatkan ketidaktahuan para pemegang kartu kredit baru yang mungkin sebagian minim pengetahuan atas hal-hal kaya gini.

At the end gue memutuskan untuk tidak memperpanjang kasus ini ke pihak yang berwajib atau berwenang atau apalah karena jujur gue masih skeptis dengan hukum di negara tercinta ini. Gue sempat berpikir kalau penipuan kaya gini sudah sering banget kejadian dan sudah banyak banget korban yang kena, kenapa juga para penipunya masih dengan santai bisa kesana kemari menjaring korban? Dan di sisi lain gue juga kecewa karena dari pihak bank tidak ada usaha untuk memperingatkan calon customernya tentang hal-hal kaya gini. FYI, kejadian ini bukan hanya terjadi sama pemilik kartu kredit bank yang gue apply, tapi juga hampir semua bank di Indonesia. So guys, do be more cautious and careful regarding this.

Apa dengan ini konklusi-nya adalah gue orang yang bodoh? Well, mungkin saja. But as stupid as I might seem to you, at least kebodohan gue yang kali ini sudah jadi satu pelajaran hidup yang mahal buat gue dan di sisi lain gue setidaknya bisa membagi ke orang lain agar tidak ada orang di sekitar gue yang harus mengalami hal yang sama kaya gue. Guys, trust me, it is a blessing when we can learn from others mistakes without having to experience them ourselves. Cukup aku saja yang menelan pil pahit ini, teman-teman #GayeLoSas.

Di sisi lain, kalau gue boleh sharing sedikit nih (boleh dong ya secara ini blog gue), gue ngerasa Tuhan juga ngajarin gue satu pelajaran yang sangat berharga. Jujur waktu itu gue sedang bergumul banget soal finansial dan pada satu titik gue pernah marah dan sedih banget sama diri gue sendiri karena gue ngerasa banyak hal yang gue ga bisa capai cuma gara-gara masalah uang dan gue sempet ngomong, "Kenapa gue harus ga punya uang?", beneran sampe segitunya deh. Setelah kejadian itu, gue bertekad untuk buktiin kalau gue bisa nabung uang yang banyak dan ngelakuin apa yang gue mau lakuin satu hari nanti.

Sekarang gue sadar kalau gue (lagi-lagi) kemakan sama kesombongan gue sendiri. Di saat gue pikir gue bisa dan mampu untuk ngelakuin apa yang gue mau, Tuhan sadarkan kalau itu bukan hal yang Dia mau untuk ada di diri gue. Apalagi ini "cuma" soal uang, jujur gue ngerasa malu karena sempet-sempetnya gue merasa gue "bisa", padahal sebenarnya di saat Tuhan bilang ini bukan punya kita atau bukan lagi punya kita, Tuhan berhak banget buat ambil balik (bukannya gue ngatain Tuhan yang ngambil duit gue yee, but ya I hope you understand what I meant).

Sekeras apapun manusia berusaha, pada akhirnya semuanya balik lagi ke Tuhan. Udah sering banget kita diingetin kalau semua yang kita punya itu bukan karena kebaikan kita, bukan karena we deserved them, but purely kasih karunia dari Tuhan. Gue tau banget hal ini, tapi sayangnya gue juga sering banget  "lupa". But well, I am thankful because He proved that He loved me by constantly reminding me in His ways.

Terakhir banget nih, gue juga diingetin kalau di saat kita kena masalah atau hal yang ga mengenakkan, itu semua bukan berarti Tuhan ga peduli. Tuhan ga pernah bilang kalau anak Tuhan ga bakal kena tipu, Tuhan juga ga pernah bilang anak Tuhan ga bakal kena sakit-penyakit, tapi Tuhan janji kalau dia ada dalam situasi apapun dalam hidup kita, dan gue bersyukur banget karena Tuhan selalu ada buat gue, dan gue percaya even in bad circumstances, there are always good things and they also teach you how to be stronger :)

"Dear brothers and sisters, when troubles come your way, consider it an opportunity for great joy. For you know that when your faith is tested, your endurance has a chance to grow. So let it grow, for when your endurance is fully developed, you will be perfect and complete, needing nothing" - James 1:2-4

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...