Powered by Blogger.

Birth Story: Welcoming Kylee


I was gonna start this post by writing: "Guess who's back?" but then I realized this phrase has already been way overused since I always said it each time I was missing from this blog and got back on leaving another single post LOL. But anyway, GUESS WHO'S BACK. 


This time I'm here was to write about the one I promised on the last post, about the birth of my little one, Kylee Zhuang. Baby K is already 6 months old now and here I am finally here to write about it. Are you ready, shall we start already then?


PS. This post will be written in Bahasa, since it would be too long of a story and my mind was currently too lazy to think in English (if that even makes any sense).


PPS. It's gonna be a super loooooooong post. Don't say I didn't warn ya.


A Week Before D-Day

For your information, selama kehamilan kemaren ini gue selalu pergi ke satu obgyn yang rumah sakitnya lumayan deket sama rumah. Seperti yang gue bilang di post kemaren, obgyn yang ini selalu bilang kaya "Ya, everything is okay." intinya doi kaya selalu had nothing much to say lah. Sampai pada detik-detik menjelang HPL (Hari Perkiraan Lahir), gue nanya sama sang obgyn, "Gimana Dok, saya bisa ga ya lahiran normal?". Nah di saat gue bertanya ini sebenernya yang gue butuhkan adalah lebih ke sebuah keyakinan, kalau gue bisa dan mampu untuk lahiran normal. 


Guess what the doctor said. "Ya, itu semua tidak bisa dipastikan ya, kita harus lihat kondisi hari-H-nya gimana dulu baru kita bisa tentukan." Gue agak gimana gitu ya dengan jawaban itu, apalagi sebelumnya gue sering denger isu kalau obgyn ini jarang banget mau handle lahiran normal. Oh, dan alasan gue kontrol di sana adalah karena kontrol di sana di-cover sama asuransi kantor. Mayan kan, kontrol hamil kaga usah bayar cuy. Intinya gue beneran ga puas dengan apa yang obgyn itu bilang karena di detik-detik menjelang lahiran ini, dimana gue juga ragu apa gua bakal mampu untuk lahiran normal, gue beneran butuh orang buat nge-yakinin gue kalau sebenernya gue itu mampu.


Singkat cerita setelah gue ngobrol dengan salah satu temen yang baru lahiran, gue memutuskan buat pindah rumah sakit (LOL, I know, right). Gue coba untuk kontrol ke dokter lain buat cari second opinion. There was this other obgyn yang udah cukup senior, dan dia terkenal pro-normal banget gitu. Dan akhirnya kita mutusin buat ke sana. When we asked him the same question, all he said was, "Yah harus bisa lah, kenapa ga bisa?" NAH GITU DONG DOK.


Feeling assured, gue memutuskan untuk pindah ke rumah sakit kedua untuk proses lahiran. Untungnya rumah sakit yang ini juga di-cover sama asuransi kantor, dan coveran-nya malah lebih banyak daripada rumah sakit yang sebelumnya. Cucok lah kalo begetoo. 


All that was left to do was to wait for my baby's arrival.


Friday, July 17, 2020

It was past my due date already. HPL gue itu tanggal 16 dan gue udah deg-degan aja dari beberapa hari sebelum tanggal 16 since gue expected K buat keluar sebelum HPL. But it was nothing LOL.


Tanggal 17 itu juga gue ga berasa apa-apa. I was sleeping so well and woke up like usual. Begitu bangun pagi gue ngerasa sedikit mules terus ngerasa kaya ada cairan keluar down there. Akhirnya gue coba cek di kamar mandi dan bener aja udah ada flek. Uh-oh it's happening, it's happening!


I told myself not to panic (ya kaga panik juga sih soale kaga ada sakit-sakitnya LOL) then I took some shower and washed my hair. After the bath gue kontek suami yang udah pergi kerja then he rushed home karena dia pikir waktu lahirannya udah deket juga.


Long story short, gue bersama suami dan mama mertua berangkat ke rumah sakit. We didn't really know if it was too early or what since the obgyn bilang ke kita kalau udah keluar flek, itu adalah clue buat kita berangkat ke rumah sakit. So we did.


Arriving at the hospital, W took care of the administration thing dan gue disuruh stand by di kasur IGD. Setelah dicek ini itu, ternyata baru bukaan 1 but then kita disuruh buat pindah ke ruang kebidanan buat dicek lebih lanjut. Setelah sampai di ruang kebidanan di lantai 3, gue disuruh ganti baju dan masuk ke salah satu kamar persalinan. It was where I would be delivering the baby.


Udah lewat berjam-jam kita di sana dan gue belum merasakan sakit apapun. Siangnya kita bertiga masih sempet pesen Hokben dan makan lesehan semacam piknik like nothing else mattered LOL. Sorean sekitar 3:30, gue di-cek lagi dan masih belum ada kemajuan. Akhirnya sekitar jam 4, gue dikasih minum pil perangsang yang katanya buat ngelunakin mulut rahim.


Setelah minum obat itu, gue masih juga ga ngerasain apa-apa, masih bisa ketawa-ketiwi ga jelas. Akhirnya jam 7 malam after dinner, gue diinfus induksi karena sampai sekarang masih belum ada kemajuan dari bukaan 1 yang tadi pagi.


Little did I know, that was where all my nightmare began (sumpah pas ngetik ini tiba-tiba perut gua berasa mules, as if my body remembered the pain). Setelah diinduksi akhirnya gue mulai ngerasain mules. Tapi after almost 2 hours, gue dicek lagi sama obgyn-nya dan doi bilang masih sama aja belum ada bukaan lanjutan. I was like "Whaaaaat ini aja sakitnya udah mayan berasa loh, cuy." 


The next thing was dosis induksinya dinaikin lagi dan sakit yang gue rasain itu makin intens. I was hoping that I would be meeting my baby soon, though gue belum tahu persis what was going to come for me.


I tried going to sleep at 11 hoping to get some rest, and I was sure that Kylee was going to be a 18 baby. And just like that, the day was gone.


Saturday, July 18, 2020

Penderitaan gua yang sesungguhnya dimulai tepat setelah gue berusaha untuk tidur sambil ngumpulin tenaga buat ngedorong baby nantinya. Dari bukaan 3 menuju bukaan 4 dan selanjutnya itu gue udah kesakitan parah. My legs were literally shaking, gue berusaha menahan sakitnya sebisa gue sampai gue udah mikir kaya, "Ya Tuhan begini amet sakitnya". I believed at this time suami juga udah ngeri gitu ngeliatin gue LOL.


Sampai akhirnya di bukaan 7 gue udah ngerasain dorongan buat ngeden banget dan untungnya gue denger kabar juga kalau obgyn-nya udah dateng (it was past midnight, doi lagi ga standby di RS). 


Somehow at that moment gue ngerasa kalau the obgyn lagi kurang baik gitu mood-nya. Di awal-awal mulai ngeden gue sempet salah terus doi semacam ngomel gitu (yes, you read it right, doi ngomel sama emak-emak yang lagi sibuk ngeden).


My husband did have a super important role that day. Sebelum lahiran, kita kaya udah janjian gitu buat work together as a team. I kept telling him, "Ntar hari-H kalau gue udah mulai panik, udah mulai ga waras, lu jangan ikutan panik. Lu harus jadi orang waras yang nyadarin gue untuk balik ke alam sadar gue". And guess what, he did such a great job that day. Di saat gue udah mulai kehabisan energi dan super lemes karena kesakitan, dia terus nyadarin gue, ingetin gue untuk balik lagi. Really couldn't have made it without him.


Singkat cerita, akhirnya the grand moment tiba, dimana akhirnya gue melepaskan 'my longest and biggest poop ever' (LOL sorry to be super unfiltered, but that really was what it felt like). Beneran setelah ngeden yang terakhir itu rasanya kaya super lega, even proses ngejahit bagian yang 'down there' udah sampai ga berasa lagi (kemungkinan efek bius juga sih).


The next thing I was feeling was mata gue super berat sampai dimana waktu gue dikasih lihat anak gue, gue cuma bisa kaya ngintip sekilas gitu terus langsung udah lemes aja tepar. Boro-boro dah bisa kaya di film-film gitu dimana emak-emak abis lahiran bisa melukin anaknya sambil netesin air mata terharu ngeliat buah hatinya yang udah dikandung selama 9 bulan. GUE BUKA MATA AJA SUSAH CUY. #EhMaapNgegas


They took the baby outside to get her cleaned. The obgyn continued his job while gue terbaring lemah lesu lunglai. Suami minta izin buat keluar ngeliatin baby. At first dia bingung gitu harus terus nemenin istrinya yang kaya udah ga niat hidup atau harus keluar ngeliatin anaknya LOL. I let him out and not long after that, I thought I just heard the sound of my baby girl crying outside. She was such a great fighter too, I think us three did such a good job as a team.

I was finally moved to the patient room at around 6 AM and the rest was history. I still have some mixed feeling while remembering the moment I gave birth to her. Somehow proud of myself for making it through, tapi di sisi lain gue tau itu semua adalah sebuah awal yang baru lagi buat gue dan I knew I still have a lot of things to learn in the future.


So now if you ask, gimana rasanya lahiran normal? Percayalah, the worst part itu bukan waktu ngeden, tapi saat kontraksi. I don't know soal orang yang kontraksinya normal tanpa induksi ya, but some people said kalau di-induksi itu sakitnya lebih ngeri dari kontraksi biasa, but I thought mungkin itu karena kalau di-induksi itu sakitnya di-squeeze ke dalam waktu yang lebih singkat gitu. Ya teori asal gue aja sih.


Next, trauma ga buat lahiran normal? Hmm kalau nanya ini pas baru kelar lahiran sih jawabannya: TRAUMA BANGET CUY. But now that the pain has gone away, ya jawabnya kaga bakal se-ngegas itu lagi. Kalo sekarang sih gue bukan takut hamil sama lahirannya, gue takut kaga becus ngurusin anaknya LOL. But anyway, that's another story for another day.



Kylee is the cutest and sweetest baby ever (said her mother) and she has brought such a great joy to our family. The road ahead is long and uncertain, but I am excited for what's coming, for the days we will be walking together, as a family. Yeah, this is it, I'm writing on this blog with a new identity: a mother, so do expect more of the emak-emak related posts in the future (LOL that’s if I even have the intention to write some). Ciao, Bella!

4 comments

  1. Lucu bgtttt Kylee, cepet gede yaa sehat selalu dan smoga corona segera berlalu biar kylee bisa maen ke jakarta buat ketemu para auntie di jakarta :D
    Kylee udah 6bulan masukin foto banyakan dong biar keliatan perkembangan nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. AMIIIIIN. When the time comes jangan lupa sponsor tiketnya ya ้˜ฟๅงจ tersayang.

      Delete
  2. Happy 6 mos baby K and congratsss mommy sudah survive selama enam bulan LOL ๐Ÿ˜

    I know right, the worst part itu kontraksinya memang. How emak-emak zaman dulu tuh bisa brojolin anak banyak banget ya huhuhu but anyway, it's worth all the aches kan, baby K ke ai banget sih *cubit*

    Stay healthy baby K, soon playdate with dedeknya Josh aja yaa after pandemic ๐Ÿ˜œ and idea for future post, lanjutin aja itu cerita abis lahiran gimana sampai hari ini hahahaha take care ya, sis! ❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. I guess that's why they said days go slow but years go fast. Terseok-seok akhirnya lewat juga 6 bulan ya Bund LOL.

      Mungkin mereka dapet semacam antibodi khusus after lahiran berulang kali, or maybe they just simply jadi mati rasa LOLOL later if I ever decide to have another baby dan kontraksi lagi, I'll tell you how it feels :))

      Delete